• Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Nurdin Halid
    • Tentang The Nurdin Halid Institute
    • Kontak
    • FAQ
  • Program
    • Riset dan Pengkajian
    • Penerbitan Buku dan Jurnal
    • Seminar dan Diskusi
    • Pengembangan Koperasi Berbasis Sumber Daya Lokal
    • NHI Award
  • Publikasi
    • Press Release
    • Pidato & Sambutan
    • Makalah dan Presentasi
    • Wawancara Eksklusif
  • Berita dan Opini
    • Berita
    • Opini
  • Galeri
    • Foto
      • Koperasi
      • Politik
      • Sepakbola
    • Video
      • Koperasi
      • Politik
      • Sepakbola
  • Perpustakaan
    • Buku
      • Biografi Koperasi
      • Biografi Politik
      • Biografi Sepakbola
      • Koperasi Pilar Negara
      • Lahir Baru
      • Mahkota Perjuangan
      • Pendekar Bola dari Bugis
      • Reborn
      • Suara Golkar, Suara Rakyat
      • Visi PSSI 2020
    • Arsip
  • NH Channel

Antara Piala Asia 2007 & Piala Dunia 2022

December 16, 2017webadminWawancara

Dalam Munas PSSI pada April 2007 di Makassar, di hadapan Wakil Presiden Jusuf Kalla, PSSI di bawah Ketua Umum  mencanangkan Visi Sepakbola Indonesia 2020. Apa itu dan bagaimana mewujudkan obsesi besar untuk tidak disebut mimpi besar itu? Dan, apa yang dimaksud Nurdin bahwa Piala Asia 2007 merupakan mikroskopik Indonesia kalau menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022? Berikut petikan wawancara Tabloid Sepakbola Indonesia dengan Nurdin Halid pasca Piala Asia 2007.

Apa yang dimaksud dengan Visi PSSI 2020?

NH  : Ya, itu goals yang ditekadkan PSSI untuk digapai. Ada dua goals yang dicanangkan PSSI. Pertama, membangun industri sepakbola nasional yang maju. Kedua, dengan dibangunnya industri sepakbola yang maju.

Bukankah besarnya perputaran uang dan kesemarakan kompetisi sepakbola profesional dalam satu dasawarsa terakhir merupakan fenomena sudah terbangunnya  industri sepakbola di Tanah Air?

NH : Persepsi seperti itu tidak salah. Cuma, kesemarakan itu belum disertai kualitas, teknis maupun mental pemain, ofisial, panpel, dan suporter. Pola pikir dan tata kerja pelaku sepakbola kita masih cendrung amatir konvensional. Kultur sepakbola modern sebagai prasyarat bertumbuh kembangnya sepakbola industrial masih jauh dari jangkauan kita. Kita masih harus bekerja keras agar kompetisi yang semarak itu makin bermutu sehingga output-nya pun berkualitas, berupa pemain-pemain yang hebat untuk tim nasional. Orientasi mutu dan kualitas serta profit masih harus terus diperjuangkan.

Lalu, bagaimana dengan nilai sponsor kompetisi Liga Djarum yang mencapai Rp 35 miliar dan Copa Dji Sam Soe Rp 15 miliar? Gaji pemain juga ada yang melebihi Rp 1 miliar semusim. 

NH : Itu menjadi tidak besar kalau dilihat dari biaya kompetisi yang demikian besar. Nilai sponsorship kompetisi nasional kita seharusnya bisa lebih tinggi lagi. Sebab, selain peserta dan pertandingan banyak, penonton sepakbola Indonesia juga luar biasa banyak dan sangat fanatik. PSSI akan berupaya keras agar potensi nilai jual itu menjadi nyata.

Di level klub, sejumlah pemain mendapat gaji di atas Rp 1 miliar. Itu belum termasuk bonus pertandingan.

NH : Dari aspek pasar bebas, itu wajar dan sangat positif untuk perkembangan industri sepakbola di Indonesia. Namun hal itu menjadi tidak wajar kalau sumber uang klub hanya bergantung kepada APBD. Seharusnya, sumber utama keuangan klub berasal dari nilai pasar yang dimilikinya. Dana APBD hanya bersifat pendukung.

Pemerintah sudah memberi sinyal bahwa dana APBD tidak boleh lagi dipakai untuk mendanai klub sepakbola.

NH : Bukan tidak boleh. Pada prinsipnya, sesuai amanat UU Sistem Keolahragaan Nasional, pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib membiayai olahraga. Dalam era otonomi daerah, Pemda memiliki hak untuk memilih cabang olahraga paling favorit untuk dikembangkan di daerahnya. Nah, kalau Pemda memilih cabang sepakbola, itu hak mereka untuk masyarakat.

Jadi, Pemda masih boleh mendanai klub sepakbola lewat APBD?

NH : Ya tentu karena itu amanat UU dan hak otonomi daerah. Ke depan, dana pemerintah memang lebih diarahkan untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas olahraga, dalam hal ini infrastruktur sepakbola.

Tapi, pemerintah telah mengultimatum bahwa dana APBD tidak boleh lagi dipakai untuk klub sepakbola mulai tahun 2008.

NH : PSSI tidak melihat itu sebagai ultimatum tetapi himbauan. Dan kami sangat memperhatikan himbauan itu. Kami merespons himbauan itu dengan dua langkah. Pertama, melakukan negosiasi dengan pemerintah supaya dana APBD untuk klub dikurangi secara bertahap. Namun bukan dihapus karena itu amanat UU dan hak otonomi Pemda. Kedua, mendorong klub menggali secara optimal potensi ekonomi yang dimiliki. Untuk itu, PSSI telah membentuk Direktorat Bussiness Development di bawah Badan Industri Sepakbola. Salah satu misi pentingnya adalah membantu klub untuk mengelola potensi bisnisnya yang selama ini kurang digarap dengan baik.

Apa saja potensi pasar klub?

NH : Ada lima potensi yang menjadi sumber pendapatan klub. Pertama, tiket pertandingan. Kedua, perusahaan sponsor. Ketiga, hak siar televisi. Keempat, merchandise. Kelima, jual beli pemain. Hampir semua klub profesional di Indonesia belum menggarap secara profesional dan optimal kelima potensi pasar di atas.

Jika kelima potensi pasar klub di atas tergarap dengan baik, apakah bangunan industri sepakbola yang diidam-idamkan otomatis tegak berdiri?

NH : Tentu. Sebab, industri sepakbola modern berorientasi kepada profesionalisme klub. Makin hebat klub-klub profesional, kompetisi profesional pun makin hebat, dan pada gilirannya bangunan industri sepakbola pun makin kuat kokoh.

Logikanya, jika industri sepakbola mencapai level tinggi, apakah prestasi otomatis akan tinggi pula?

NH : Benar. Industri sepakbola yang terbangun oleh klub-klub profesional yang hebat akan melahirkan pemain-pemain profesional yang hebat pula. Pemain-pemain profesional yang bermutu tinggi inilah yang menghuni tim nasional.

Apakah pemain-pemain profesional bermutu tinggi menjadi jaminan tiket ke Piala Dunia 2018 yang dicita-citakan?

NH : Ya, itu makna Visi Sepakbola Indonesia 2020. Asumsinya, jika level industri sepakbola kita sudah tinggi pada tahun 2015, mutu tim nasional kita pun akan mencapai level tinggi dan dengan demikian kita punya peluang untuk bersaing merebut tiket Piala Dunia 2018.

Kalau targetnya lolos ke Piala Dunia 2018, apa maksudnya menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022?       

NH: Begini. Angka 2020 adalah simbol kebulatan tekad, target. Lolos ke Piala Dunia 2018 maksudnya bahwa saat itu mutu tim nasional kita sudah masuk level atas Asia sehingga peluang ke Piala Dunia lebih terbuka. Tapi, kalau memang industri sepakbola kita maju dalam tiga empat tahun ke depan, bukan mustahil timnas kita sudah memiliki kualitas untuk bersaing merebut tiket Piala Dunia 2014. Piala Asia 2007 kali ini bisa menjadi barometer terbaru untuk melihat posisi kita di antara tim-tim raksasa Asia, sekaligus starting point bagi kita untuk melangkah ke depan.

Soal tuan rumah Piala Dunia 2022, apakah mungkin? 

NH : Mengapa tidak? Negeri kita punya potensi besar untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia. Modal kita adalah antusiasme penonton yang luar biasa dan bakat sepakbola yang besar. Hal itu sudah terbukti ketika AFC menunjuk kita menjadi tuan rumah Piala Asia, teristimewa tuan rumah pertandingan final.

Cuma, ada dua tugas kita. Pertama, meningkatkan mutu sepakbola nasional kita ke level tinggi di Asia, baik kompetisi maupun tim nasional. Kedua, menyiapkan sekitar 10 stadion standar internasional di beberapa kota besar. Beberapa kota besar yang potensial untukmemiliki infrastruktur adalah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Malang, Kediri, Sidoarjo, Bali, Palembang. Untuk urusan infrastruktur ini, dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat menentukan seperti selama ini dilakukan Negara-negara mana yang menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Kalau gagal mencapai pentas Piala Dunia 2014 atau 2018?

NH : Tidak jadi masalah. Karena bukan lolos atau tidak lolos yang jadi substansi pembinaan sepakbola, tapi standar kualitas high level. Mutu tinggi tidak identik dengan prestasi tinggi. Publik Inggris tak perlu huru-hara karena timnas mereka tak pernah juara dunia lagi sejak merebut trofi bergengsi itu tahun 1966, padahal  industri sepakbola mereka luar biasa. Argentina juga tak pernah juara dunia lagi sejak 1986 tapi reputasi mereka tak kalah dari Brasil.

Kalau toh belum berhasil merebut tiket Piala Dunia, kita punya kapasitas untuk bersaing merebut tiket tuan rumah Piala Dunia 2022 karena Asia mendapat jatah rotasi tuan rumah setelah 2002 (2006 di Jerman, 2010 di Afrika Selatan, 2014 Amerika Selatan, 2018 di Amerika Tengah/Utara).

Mengapa begitu?

NH : Karena level permainan Argentina masuk papan atas dunia. Jadi, target kita adalah standar mutu high level. Kalau sudah mencapai level tinggi, prestasi tinggi yang membanggakan bisa diraih. Tapi, kualitas tinggi tidak identik dengan prestasi tinggi. Itulah makna dari ungkapan bahwa prestasi sepakbola itu sebuah proses. Proses bermutu akan menghasilkan output bermutu pula. Kualitas merupakan jaminan prestasi. Tapi, mutu tidak sama dengan prestasi. Mutu tinggi kompetisi Inggris atau bintang-bintang kelas milik Argentina, toh tidak sama dengan juara dunia.

Berarti, industri sepakbola maju yang diidam-idamkan tidak ada gunanya?

NH : Bukan begitu. Industri sepakbola yang maju bermuara pada dua tujuan. Pertama, industri sepakbola akan meningkatkan penghasilan para pelaku sepakbola sekaligus ikut mengatrol perekonomian daerah maupun nasional. Kedua, industri sepakbola (klub dan kompetisi profesional kita yang bermutu tinggi) akan menghasilkan pemain-pemain nasional bermutu sebagai jaminan untuk mencetak pretasi tinggi. Logikanya, mutu tinggi akan menghasilkan prestasi tinggi. Tapi, dalam sepakbola, logika itu tidak selamanya jalan. Buktinya, Inggris dan Argentina tadi. Inggris bahkan tidak lolos ke Piala Eropa 2008.

Kalau klub menjadi tulang punggung industri sepakbola, lalu di mana peran PSSI?

NH : PSSI berperan sebagai regulator, koordinator, dan supervisor dalam proses berdirinya bangunan industri sepakbola yang dimotori klub-klub profesional yang bermutu tinggi. Misalnya, membuat Manual Liga Profesional, termasuk di dalamnya menetapkan persyaratan klub profesional Liga Super dan Divisi Utama, membuat peraturan-peraturan umum kompetisi dan peraturan khusus pertandingan berikut sanksi-sanksinya yang jelas.

Buku

Jurnal The NH Institute

Sosial Media

Facebook
Twitter
Instagram

Fan Page Nurdin Halid

Alamat: Wisma NH
Jalan Raya Pasar Minggu No. 2 B-C
Pancoran, Jakarta Selatan
✉️ info@thenurdinhalidinstitute.com

Copyright © 2025 The Nurdin Halid Institute All Rights Reserved