• Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Nurdin Halid
    • Tentang The Nurdin Halid Institute
    • Kontak
    • FAQ
  • Program
    • Riset dan Pengkajian
    • Penerbitan Buku dan Jurnal
    • Seminar dan Diskusi
    • Pengembangan Koperasi Berbasis Sumber Daya Lokal
    • NHI Award
  • Publikasi
    • Press Release
    • Pidato & Sambutan
    • Makalah dan Presentasi
    • Wawancara Eksklusif
  • Berita dan Opini
    • Berita
    • Opini
  • Galeri
    • Foto
      • Koperasi
      • Politik
      • Sepakbola
    • Video
      • Koperasi
      • Politik
      • Sepakbola
  • Perpustakaan
    • Buku
      • Biografi Koperasi
      • Biografi Politik
      • Biografi Sepakbola
      • Koperasi Pilar Negara
      • Lahir Baru
      • Mahkota Perjuangan
      • Pendekar Bola dari Bugis
      • Reborn
      • Suara Golkar, Suara Rakyat
      • Visi PSSI 2020
    • Arsip
  • NH Channel

Infrastruktur Politik Antar Elektabilitas NH-Aziz Melejit

September 25, 2017webadminBerita

RAKYATKU.COM, MAKASSAR – Elektabilitas pasangan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) melejit atas tiga rival potensialnya di Pilgub Sulsel versi lembaga survei Poltracking Indonesia.

Elektabilitas NH-Aziz sebesar 19,79%, disusul pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) sebesar 17,39%, lalu Nurdin Abdullah-Tanribali Lamo (NA-TBL) di angka 16,37%, serta Agus Arifin Nu’mang-Aliyah Mustika Ilham di posisi buncit dengan raihan 8,95%.

Secara angka, NH-Aziz yang diusung Golkar dan NasDem memang unggul. Namun, survei ini memiliki margin of error sebesar 3,5%. Pengambilan data ini terekam pada 10-17 Agustus 2017 dengan melibatkan 800 responden di Sulsel. Sebagai catatan, data ini terekam sebelum ada penyerahan rekomendasi NasDem ke NH-Aziz.

Direktur Nurani Strategic Nurmal Idrus menilai, ada strategi baru yang dikembangkan masing-masing calon untuk menarik simpati pemilih meski persentasenya tipis,

“Khusus NH-Aziz, saya melihat hasil tersebut bukanlah hal yang mengejutkan. Setidaknya jika kita menghubungkannya dengan sebuah teori politik yaitu infrastruktur dan suprastruktur politik,” kata Nurmal, Senin (25/9/2017).

Dalam teori tersebut dijelaskan, lanjut Nurmal, bahwa penentu kemenangan dalam kontestasi seperti pilkada bukanlah semata faktor figuritas. Tetapi lebih banyak ditentukan oleh penguasaan atas infrastruktur politik oleh seorang kandidat.

“Infrastruktur politik itu terdiri dari partai politik (political party), kelompok kepentingan (interst group), kelompok penekan (pressure group), media komunikasi politik (political communication media) dan tokoh politik (political figure),” urai Nurmal.

Menurut mantan Ketua KPU Makassar ini, NH-Aziz dalam beberapa bulan terakhir sukses memainkan peran dan strategi memaksimalkan infrastruktur politiknya untuk meredam kelemahan figuritasnya.

“Pertama, peran Partai Golkar secara organisasi memang terlihat belum maksimal. Namun, di Sulsel partai ini punya pemilih tradisional yang akan setia pada siapapun yang dicalonkan Golkar. Mereka pemilih yang dikenal sebagai strong voters yang tak peduli figur siapa yang diusung Golkar,”.

“Kedua, pada sisi NH-Aziz ada banyak kelompok kepentingan yang bermain. Itu karena ketokohan NH dan Aziz serta besarnya kewenangan karena mengendalikan kebijakan partai terbesar kedua di negeri ini membuat ia seperti gula yang dikelilingi ribuan semut. Secara tak langsung mereka berkontribusi pada keterpilihan NH Azis meski punya kepentingan sesaat pada keduanya,” katanya.

Selanjutnya, menurut Nurmal, di lingkaran NH-Aziz terdapat banyak kelompok penekan seperti beberapa LSM, kelompok aktivis, kelompok kepemudaan dan relawan yang bergabung menaikkan keterpilihan pasangan ini.

“Selain itu media komunikasi politik mereka berjalan dengan dinamis. Terakhir, pasangan ini sukses mengendalikan banyak tokoh politik di Sulsel tentunya dengan kekuatan 18 anggota DPRD Provinsi, lebih dari 150 anggota DPRD Kabupaten/kota, plus 10 Bupati/kepala daerah dan beberapa wakil bupati dan ketua DPRD,” tandasnya.

Meskipun demikian, Nurmal meyakini bahwa pemilihlah yang akan menentukan nantinya.

“Survei memang hanya bisa menjadi patokan dalam melangkah. Sebab, pada akhirnya 7 juta pemilih di Sulsel-lah yang akan menentukan pemimpinnya kelak. Namun, jika infrastruktur politik itu terus dimaksimalkan oleh NH-Aziz, adalah sebuah keniscayaan hasil survei Poltracking itu menjadi kenyataan,” pungkasnya.

http://pilkada.rakyatku.com/read/66865/2017/09/25/infrastruktur-politik-antar-elektabilitas-nh-aziz-melejit

Buku

Jurnal The NH Institute

Sosial Media

Facebook
Twitter
Instagram

Fan Page Nurdin Halid

Alamat: Wisma NH
Jalan Raya Pasar Minggu No. 2 B-C
Pancoran, Jakarta Selatan
✉️ info@thenurdinhalidinstitute.com

Copyright © 2025 The Nurdin Halid Institute All Rights Reserved