• Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Nurdin Halid
    • Tentang The Nurdin Halid Institute
    • Kontak
    • FAQ
  • Program
    • Riset dan Pengkajian
    • Penerbitan Buku dan Jurnal
    • Seminar dan Diskusi
    • Pengembangan Koperasi Berbasis Sumber Daya Lokal
    • NHI Award
  • Publikasi
    • Press Release
    • Pidato & Sambutan
    • Makalah dan Presentasi
    • Wawancara Eksklusif
  • Berita dan Opini
    • Berita
    • Opini
  • Galeri
    • Foto
      • Koperasi
      • Politik
      • Sepakbola
    • Video
      • Koperasi
      • Politik
      • Sepakbola
  • Perpustakaan
    • Buku
      • Biografi Koperasi
      • Biografi Politik
      • Biografi Sepakbola
      • Koperasi Pilar Negara
      • Lahir Baru
      • Mahkota Perjuangan
      • Pendekar Bola dari Bugis
      • Reborn
      • Suara Golkar, Suara Rakyat
      • Visi PSSI 2020
    • Arsip
  • NH Channel

Bakti Tak Berbatas NH Kepada Orangtua

September 26, 2017webadminBerita

Watampone—Ada tradisi keluarga besar H.A.M Nurdin Halid untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada kedua orang tua. Setiap tahun, mereka memperingati hari kematian keduanya.

Itu seperti terlihat saat Haul Tahun Keempat untuk Ibunda NH, Hj Andi Haking Petta Nyalla dan tahun ke-XIV untuk Ayahanda H.A Halid, yang dilaksanakan di pelataran Masjid Haking Halid, di Bulu Tempe, Watampone, Selasa (26/9).

Kebiasaan ini di mata Habib Mahbub Umar Alhamid, adalah bentuk kecintaan tanpa batas kepada orang tercinta. “Kebiasaan seperti ini dalam Islam sebenarnya hal yang wajib untuk dijalankan,” kata Pimpinan Ponpes Al Mubarak Pannampu, dalam tausiahnya.

Haul atau memperingati kematian ini mencerminkan bagaimana kesuksesan orang tua yang kembali kepada Allah Swt lebih dulu, membesarkan anak yang selalu bisa mendoakannya.

“Doa anak kepada orang tuanya, salah satu amal jariah yang mengalir meski sudah berpulang. Saya berharap, cara NH dan keluarganya mencintai orangtua ini bisa jadi inspirasi. Ini yang disebut cinta dan bakti tak berbatas,” sebutnya.

Selain itu, haul ini menunjukkan seluruh keluarga yang ditinggalkan juga selalu mengingat kematian. “Salah satu tanda kebaikan hamba jika berani dan menyisakan waktu mengingat mati,” sambungnya.

Nurdin Halid dalam kesempatan itu bercerita bagaimana tradisi mengenang kepergian orang tua digelar setiap tahun. Bahkan setiap malam Jumat, NH dan keluarga merutinkan Yasinan. Dan dua kali sebulan, menggelar pengajian di Jakarta.

“Jujur saja, saya baru tahu kalau yang sudah menjadi tradisi adalah sebuah keharusan dalam Islam. Kami di keluarga memang punya tradisi untuk memuliakan orang tua yang berlanjut hingga mereka meninggal,” katanya.

Di sela-sela pidato, NH sempat seperti bersuara tersedak karena menahan haru saat bercerita tentang ibu bapaknya. Bapak dan ibunya, meski tidak berlebihan dalam hal ekonomi, tapi punya satu sikap yang akhirnya mengantar mereka menjadi seperti sekarang ini. Keduanya sangat kuat mendorong untuk bersekolah.

Tak terhitung berapa kali rotan melayang ke betis ketika satu di antara anaknya mempermainkan sekolah.

“Kenapa saya selalu mengenang bapak dan ibu saya? Karena merekalah sumber inspirasi dan motivasi. Ibu saya sangat ulet. Hampir buta huruf. Tahu bahasa Indonesia karena anak. Tapi dorongan agar anak sekolah sangat luar biasa.  Punya rotan untuk pukul kaki kalau tidak ke sekolah. Atau memberi hukuman ambil air,” bebernya.

NH juga menyebut salah satu pesan yang tak mungkin dia lupakan. Bunyinya, kalau tinggal di satu kampung lalu sudah terlalu banyak yang suka dan memuji, maka pergilah tinggalkan kampung itu. Jika tidak, itu bisa membuatmu lupa diri karena berbangga.

Begitu juga, ketika di suatu kampung engkau dibenci dan tidak disukai, maka tinggalkan kampung itu. Karena boleh jadi di kampung lain, ada sekelompok orang yang jauh mencintaimu.

Lokasi haul dilaksanakan di dekat kubur ibunda yang menyerupai rumah. Kuburan itu dibangun di samping Masjid Haking Halid. Masjid ini dibangun atas permintaan ibu. Hanya berselang empat bulan setelah masjid berdiri, Petta Nyalla berpulang.

Di samping kubur ibunya, NH sempat duduk seorang diri sembari mengaji. Lalu menutupnya dengan doa yang diakhiri dengan usapan. Usapan yang sekaligus menyeka bulir airmata yang menggenang di sudut mata. (*****)

Buku

Jurnal The NH Institute

Sosial Media

Facebook
Twitter
Instagram

Fan Page Nurdin Halid

Alamat: Wisma NH
Jalan Raya Pasar Minggu No. 2 B-C
Pancoran, Jakarta Selatan
✉️ info@thenurdinhalidinstitute.com

Copyright © 2025 The Nurdin Halid Institute All Rights Reserved