
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Pasangan calon gubernur-wakil gubernur Sulsel, Nurdin Halid-Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz), terus melahirkan inovasi program untuk menjamin akselerasi perekonomian dan pembangunan.
Salah satu program yang patut dinantikan adalah kredit produktif tanpa bunga. Program itu diyakini dapat mengatasi ketimpangan ekonomi di Sulsel yang dari waktu ke waktu terus melebar.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) merilis tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Sulsel yang diukur oleh gini ratio menembus 0,429.
Gini ratio Sulsel melampaui angka nasional sebesar 0,391 dan tercatat yang kedua tertinggi di Indonesia. Memang dibutuhkan skema khusus guna memacu pertumbuhan perekonomian di Sulsel secara merata dan berkeadilan.
NH menerangkan program kredit produktif tanpa bunga merupakan satu dari sekian banyak program ekonomi kerakyatan pasangan dengan slogan Sulsel Baru.
Pengembangan sektor produktif meliputi pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan, menjadi atensi lantaran diyakini dapat menekan angka kesenjangan serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Program kredit produktif tanpa bunga digagas dengan memanfaatkan peran bank daerah untuk menyalurkan kredit khusus.
“Kalau saya terpilih jadi gubernur, saya akan siapkan yang namanya kredit kesejahteraan. Tidak ada bunganya,” ujar NH yang juga Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).
Menurut NH, meski kredit untuk petani kini sudah disiapkan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), tetapi bunga yang ditetapkan masih dinilai memberatkan.
“Mungkin bunganya tahun lalu 9 persen, tahun ini ditargetkan tinggal 7 persen. Kalau NH-Aziz gubernurnya, bunganya jadi 0 persen,” ujar Ketua Koordinator Bidang Pratama DPP Golkar itu via rilis, Selasa (20/2/2018).
Pengamat ekonomi Prof Dr Nasir Hamzah menilai permodalan bagi petani dan nelayan di Indonesia, khususnya di Sulsel memang masih menjadi persoalan.
Skema kredit khusus, kata dia, harus dibentuk. Skema itu berfokus untuk komoditas perkebunan rakyat, peternakan rakyat, dan perikanan rakyat.
Kredit khusus, Nasir meyakini dapat dilakukan dengan memberikan bantuan modal menggunakan mekanisme tanggung renteng.
Mekanisme joint and several liability tersebut dapat dijembatani oleh badan usaha milik desa atau kelompok petani atau nelayan sebagai penanggung jawab.
“Bisa dikelola secara bersama dalam bentuk klaster dengan menggunakan mitra usaha,” ulas Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI) itu.
Namun permasalahannya, Nasir menjelaskan sulit untuk menemukan kreditur yang ingin memberikan bantuan modal tanpa bunga. Masyarakat juga enggan meminjam modal karena tingginya bunga kredit yang harus dibayarkan.
“Sehingga yang terjadi, pengembangan usaha tidak jalan dari masyarakat. Bahkan ada yang terhenti karena sudah tidak punya modal dan tidak berani melakukan kredit. Orang pasti berpikir dua kali kalau bunganya tinggi,” tutupnya.(*)
Selasa, 20 Februari 2018
Penulis: Abdul Azis
Editor: Anita Kusuma Wardana
Sumber: http://makassar.tribunnews.com/2018/02/20/kredit-produktif-tanpa-bunga-ala-nh-aziz-pacu-ekonomi-sulsel

Alamat: Wisma NH
Jalan Raya Pasar Minggu No. 2 B-C
Pancoran, Jakarta Selatan
✉️ info@thenurdinhalidinstitute.com