MINGGU, 9 April 2017, boleh jadi hari yang tidak bisa dilupakan Nurdin Halid. Di tengah ratusan kader Partai Golkar se-Sulsel, ia menerima sebuah tugas berat. Selembar kertas yang dibungkus sebuah map, diserahkan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Idrus Marham. Isinya, merekomendasikan Nurdin Halid untuk maju di Pemilihan Gubernur Sulsel pada pertengahan tahun depan (2018). Dengan suara gemetar, Nurdin menerima amanah itu. Ini sekaligus menjadi awal dari perjuangan Nurdin Halid menuju Sulsel 1. Dia resmi dicalonkan Partai Golkar.
Lantas, bagaimana Nurdin Halid menyiapkan diri untuk ikut di Pilgub 2018? Bagaimana pula ia menangkis serangan terkait masa lalunya yang kontroversial? Berikut petikan wawancara ekslusif tim Pojok Sulses dengan Nurdin Halid di kediamannya di Jalan Mapala, Makassar.
Isu masa lalu, kemungkinan menjadi negatif campaign untuk Anda. Bisa Anda jelaskan hal ini?
Kalau kasus itu, hanya satu. Yakni soal minyak goreng. Di PN itu, kasus ini saya bebas murni. Pengadilan terbuka itu kan hanya di PN. Disitu ada 3 menteri jadi saksi Jaksa. Menteri Adi sasono, Rahardi Ramelan dan Kwik Kian Gie. Ketiganya berpendapat bahwa Nurdin tidak layak diperiksa dalam kasus ini. Itu ada dalam BAP. Inilah yang membuat saya bebas murni.

Tapi di tingkat kasasi Anda kalah?
Saya tidak tahu, kenapa jaksa kasasi. Setelah tiga tahun kemudian, yakni saat saya jadi anggota DPR RI, justru keluar putusan. Tapi hasil dakwaan, yakni terdakwa tidak menikmati hasil korupsi. Jadi saya hanya diadili karena soal kebijakan. Tiga Menteri juga itu berpendapat bahwa Nurdin justru layak jadi pahlawan sebab memperjuangkan harga minyak goreng.
Apa sebenarnya terjadi saat itu?
Saya hanya memang menunda transferan minyak goreng, tapi itu juga ada alasannya. Coba kalau memang korupsi, pasti dituntut 20 tahun. Tapi kok saya hanya dua tahun. Ini kan membuktikan jaksa ragu. Kalau tidak ragu, kan harusnya dituntut maksimal. Jadi saya ini hanya benar-benar soal kebijakan.
Anda mau mengatakan bahwa ini bagian dari skenario politik saat itu?
Saya menganggap ini murni politik. Waktu itu, saya adalah tim pemenangan Pak Wiranto. Dan orang menganggap saya adalah mesin uang Pak Wiranto. Jadi yah, dikerjalah saya ini. Jadi ada motif politiknya. Selain itu, waktu itu juga saya melawan kartel minyak goreng.
Dan alhamdulillah, saya bisa lewati semuanya. Jadi saya tetap eksis meski ditimpa berbagai masalah. Minyak goreng, beras dan gula. Tetapi semua saya bisa lewati dengan baik.
Nah, beberapa bulan setelah saya keluar dari Lapas, saya aklamasi terpilih sebagai Ketua Umum PSSI. Dan terpilih pula sebagai Ketua Umum Dekopin. Dan semua itu aklamasi. Tidak hanya itu, saya juga terpilih sebagai Vice President Perhimpunan Koperasi se Asia Pasifik.
Dari dalam tahanan, Anda bisa memanajemen PSSI. Benarkah?
Itulah hebatnya Nurdin Halid.
Ada yang mengganggap Anda bagian dari mafia PSSI?
Kok mafia? Itu sistem. Sistem yang saya bangun. Sebelum saya jadi ketua umum, jadwal PSSI tidak jelas. Kalau orang bertanya ke PSSI kapan jadwal digelar? Orang menjawab menunggu sponsor. Nah, waktu saya ketua PSSI, saya menjalankan sistem dengan baik. Makanya saya membuat Badan Liga Indonesia. Badan Liga Amatir. Dimana pun saya berada, tetap jalan ini PSSI. Jauh sebelum pertandingan, sudah ada sponsor. Saya menjual program. Dan sponsor antre untuk masuk. Inilah sistem.
Soal pengaturan skor?
Justru di era saya, pengaturan skor diberantas semua. Tidak ada lagi pengaturan skor.
Anda bisa ceritakan saat jadi manajer PSM?
Nah saat saya jadi manajer, saya menerobos kebiasaan di sepakbola. Di era sayalah kita mulai mendatangkan pesebakbola dari luar negeri. Tujuannya, supaya ada transfer ilmu ke pesebak bola lokal. Saya menerobos pakem saat itu.
Soal piala Asia?
Kita saat itu tidak ada satu kriteria untuk lolos sebagai tuan rumah. Tapi saya berhasil melobi AFC. Dimana saya lobi? saya di dalam tahanan loh. Mereka datang ke tahanan. Dan belum pernah Indonesia jadi tuan rumah, yakni tahun 2007 itu. Dan tidak ditahu lagi kapan Indonesia tuan rumah lagi piala Asia. Selain itu, tahun 2001 saya sukses melobi Makassar jadi tuan rumah Piala Champions. Ini pertandingan berskala internasional semua.
Kalau Anda gubernur, apa perhatiannya terhadap PSM?
Wah pasti, saya malah mau bangun stadion berstandar internasional.
Dari mana dapat anggaran?
Wah, harus anda punya mimpi. Mimpi itu setengah dari perencanaan dan perencanaan setengah dari keberhasilan.
Sekarang soal gubernur, Anda kok mau maju di Pilgub Sulsel, padahal Anda sudah reputasi nasional bahkan internasional?
Saya tidak pernah membayangkan akan kembali ke Sulsel. Saya hanya berpikir jadi pengusaha saja. Tapi saya tidak menyangka ketika ditunjuk oleh Ketua Umum DPP Setya Novanto untuk menjadi Plt di Sulsel. Lalu, saya ke DPD II, semua DPD II mencalonkan saya. Aspirasi mengalir dari daerah.
Ini yang saya tidak bisa bendung. Ada tokoh-tokoh mahasiswa, LSM dan akademisi juga datang ke rumah saya. Itupun saya tidak percaya. Saya akhirnya putuskan untuk turun ke masyarakat dan menanyakan langsung ke masyarakat. Apa benar menginginkan saya?
Hasilnya?
Ternyata, setelah saya melihat, Sulsel ini memang membutuhkan terobosan besar. Karena ternyata kita sangat tertinggal dari sisi infrastruktur. Kemarin saya ke Bone, datang ke kampung saya waktu kecil dimana saya sekolah kelas 1 sampai kelas 3 SD. Saya tidak menyangka daerah itu, tidak berubah dari 42 tahun lalu.
Saya ke Luwu, Sidrap dll. Saya melihat tidak ada perkembangan yang signifikan. Kesimpulan saya, komoditas Sulsel tidak dikelola maksimal. Itulah yang membuat saya tergugah untuk kembali. Ini perlu terobosan besar.
Sebenarnya, saya telat jadi gubernur. Harusnya 15 tahun lalu. Kalau saya gubernur, tidak begini Kota Makassar. Saat ini, jika Makassar tidak kelola dengan baik, maka Makassar akan stag dalam 25 tahun ke depan. Ini karena arus urban ke Makassar sangat besar, khususnya usia-usia produktif.
Ini harus ada solusi. Jangan disatukan dalam satu kota untuk beberapa kawasan. Kota pendidikan, pemerintahan, dan jasa. Ini harus dipisah.
Sulsel ini daerah pertanian, tapi produksi tidak maksimal. Memang dibutuhkan terobosan besar.
Dan Anda punya terobosan besar untuk Sulsel?
Iyalah. Saya punya mimpi besar tentang Sulsel. Ini bukan soal harus jago pidato, jago ceramah, tapi harus berani mengambil terobosan. Harus inovatif. Harus mempu bisa berkreasi.
Setelah Anda ke daerah, apa yang Anda jumpai?
Saya ke daerah sedang tidur dalam perjalanan, tiba-tiba buk..buk…buk.. Wah jalan berlobang. Bagaimana mau meningkatkan taraf hidup rakyat, infrastruktur jalan saja yang menjadi tanggungjawab pemeritah tidak bisa diadakan.
Padahal saat ini kita sudah masuk alam peradaban modern. Sebenarnya, mudah untuk meningkat infrastruktur di Sulsel. Cukup dengan secangkir teh di Istana Negara. Lebih berat jadi manager PSM ketimbang jadi Gubernur Sulsel. Menang tidak dipuji, kalah dicaci maki.
Soal Sulsel baru?
Sulsel baru intinya, ekonomi bertumbuh berbarengan dengan pemerataan pendapatan. Allah tidak pernah merubah Sulsel dari sektor-sektor komoditasnya. Itu Sulsel. Kenapa Sulsel baru? Karena ini harus digerakkan.
Terciptanya sentra-sentra pertumbuhan. Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi. Kalau di Palopo kita bangun perguruan tinggi yang performanya sama dengan Makassar, mereka pasti tidak mau ke Makassar. Untuk apa? Mereka sudah punya kampus. Begitupun di Parepare, Bone dan Bulukumba.
Soal ekonomi, Bank Sulsebar harus jadi kasir rakyat. Bank Sulsebar jangan hanya hanya melayani kontraktor. Jadi pemerintah harus hadir di sini. Bank Sulselbar harus jadi miliknya rakyat. Namun intinya, Sulsel Baru menjadikan warga Sulsel menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Soal sama-samaki?
Saya canangkan trikarya pembangunan. Dalam trikarya, ada investasi. Tidak ada lagi tanah rakyat dikuasai orang tertentu. Tanah rakyat harus jadi investasi rakyat. Misalnya, ada satu pabrik, rakyat harus punya saham 30%. Saya tidak mau rakyat hanya geleng-geleng kepala karena melihat dolar lewat-lewat.
(tim pojoksulsel)
Sumber:
WAWANCARA EKSKLUSIF: Ini Mimpi Besar Nurdin Halid tentang Sulsel Baru

Alamat: Wisma NH
Jalan Raya Pasar Minggu No. 2 B-C
Pancoran, Jakarta Selatan
✉️ info@thenurdinhalidinstitute.com